Minggu, 03 Februari 2008

MEMAHAMI JURNALISTIK DARI TITIK NOL

Apakah jurnalistik itu? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa ada hal yang perlu dijelaskan mengenai jurnalistik. Secara umum, jurnalistik bisa dipahami sebagai kegiatan menyampaikan informasi, yakni kegiatan mengemas berita aktual untuk khalayak atau audience melalui sarana media, baik cetak maupun elektronika. Oleh karena itu, kegiatan menyampaikan informasi ini dibutuhkan teknik-teknik khusus agar informasi itu menarik.
Kata jurnalistik itu sendiri, bisa diruntut dari asal katanya yaitu :
1. journal, yakni surat kabar atau majalah.
2. journalistic, yakni kewartawanan.
3. journey, yakni perjalanan.
4. du jour, yakni hari, berita dalam satu hari itu termuat pada lembaran tercetak. Tapi, pada perkembangan berikutnya, tak cuma media tercetak saja yang bisa menyampaikan informasi, media elektronika pun berkembang sangat pesat sehingga keduanya saling melengkapi.
Pengertian jurnalistik, berdasarkan pemahaman itu bisa berkaitan dengan kegiatan menyiapkan, mengedit, menulis untuk surat kabar, majalah atau penerbitan lain. Di sisi lain, kita juga mengenal istilah pers. Pers itu sendiri berasal dari kata pressur, kemudian menjadi press, yang memiliki pengertian sempit dan umum. Pertama, pengertian sempitnya pers adalah media cetak yang mengelola pemberitaan. Kedua, pengertian pers secara umum adalah semua media komunikasi massa baik koran, majalah, tabloid, bulletin, maupun radio dan televisi.
Pengertian jurnalistik, juga bisa dikaitkan dengan keadaan di Roma pada zaman Julius Caesar, ketika terdapat lembar-lembar catatan berisi pengumuman atau berita-berita penting pemerintah. Lembaran-lembaran itu ditempel di dinding atau di tiang-tiang gantungan, juga tiang-tiang bangunan yang mudah dibaca orang. Mereka menyebutnya Acta Diurna, yang berarti kejadian sehari-hari. Kemudian, orang-orang kaya memerintahkan pada budak-budaknya, khusus sebagai juru tulis untuk menyalin Acta Diurna. Bahkan ada yang menjualnya ke daerah-daerah lain. Acta Diurna ini dikenal antara tahun 100 sampai 44 sebelum Masehi.
Dalam perkembangannya, para budak yang menyalin acta diurna itu disebut sebagai diurnalii dan kelak orang mengenal istilah jurnalis, jurnalisme atau jurnalistik.
Sementara itu di Cina, pada masa pemerintahan Dinasti Tang, terdapat selebaran pendek yang disebut Pao yang artinya laporan. Diterbitkan oleh pejabat pemerintah. Pao ini terbit dalam beberapa bentuk dan sejumlah nama, sampai akhir Dinasti Ching (1911).
Sekitar tahun 1609, terbit surat kabar berkala pertama kalinya di Jerman dan Anwerp. Dan, tahun 1702 salah satu surat kabar harian pertama, dikenal The Daily Courent. Di Indonesia, bila lahirnya Nouvelles Bataviase yang terbit tahun 1744 dijadikan titik pangkalnya, eksistensi surat kabar sudah berusia lebih 200 tahun.

Pers Sebagai Kerja Kolektif
Jurnalistik sebagai kegiatan penerbitan pers adalah kegiatan kolektif yang tidak bisa dikerjakan seorang diri. Sebab, ada kegiatan yang disebut pengumpulan bahan berita, pengetikan berita, penyuntingan, sampai pada mencetak dan menjual produk, semuanya harus dengan koordinasi. Semua itu harus dilakukan bersama orang lain.
Oleh sebab itu, ada yang disebut wartawan. Ada yang bertugas sebagai editor yang memeriksa naskah dan mnyeleksi naskah untuk dimuat. Ada korektor naskah. Ada petugas setting, cetak dan distributor, agen atau loper. Tugas wartawan tidak sama dengan petugas bagian iklan. Sebab, pers juga harus hidup dengan menerima order iklan.
Secara umum, tugas wartawan adalah mencari berita di lapangan. Mereka melakukan wawancara dengan narasumber, mendatangi tempat kejadian, acara, atau peristiwa yang disaksikannya. Tulisan yang dibuat wartawan harus diserahkan pada redaktur bersangkutan. Tugas redaktur memeriksa, menyeleksi, menyunting dan mengatur muatan. Ada naskah yang segera dimuat, ada yang ditunda, ada pula yang harus disempurnakan. Sesudah itu, bagian-bagian lain yang menunjang kerja keredaksionalan seperti pra cetak, cetak dan pasca cetak, melakukan aktivitasnya.
Jadi, kerja dalam dunia jurnalistik memang kolektif. Tidak bisa orang menerbitkan sendiri koran, mencari iklan sendiri, mengisi sendiri dan menjualnya sendiri. Oleh sebab itu, wartawan harus bisa bekerja secara team work.

Opini, Bagian Penting dari Informasi
Hampir bisa dipastikan, setiap penerbitan pers memberi tempat untuk pembuatan opini yang ditulis para pembaca. Opini, pada akhirnya memang merupakan bagian penting dari informasi, sehingga tidak hanya disajikan secara faktual. Opini memberi ruang pada pemikiran, solusi, gagasan, terhadap suatu aktualitas. Pendapat yang beragam itu diperlukan agar wawasan kita dalam melihat suatu peristiwa menjadi lebih lengkap.
Opini, tentu lebih bersifat subjektif dalam memandang peristiwa. Ditulis dengan paradigma ilmiah, cara berpikir ilmiah, cara pandang ilmiah, tetapi disajikan dengan gaya popular. Terutama bila ditujukan untuk pembaca yang berasal dari segala status sosial, bahasanya tidak bisa terlampau ilmiah dan terlamapau teknis. Bahasa popular dengan gaya penulisan popular akan membawa sebuah permasalahan yang serius disampaikan secara enak dan mudah ditangkap. Penulis opini jangn sampai terjebak oleh pengertian ilmiah dan teknis, sebab surat kabar pada dasarnya lebih bersifat umum.
Siapa saja, bisa menulis opini. Tetapi, sebaiknya penulis opini adalah seorang spesialis bukan generalis. Jadi, harus dikerjakan berdasarkan spesialisasi pemikiran dan bidang yang dikuasai.
Menulis opini di surat kabar, berbeda dengan menulis makalah. Bukan panjang tulisan yang dipentingkan. Tetapi, bagaimana dengan halaman maksimal lima halaman sudah mencakup persoalan yang akan dituliskan. Halaman surat kabar sangat terbatas, sehingga tulisan opini yang terlalu panjang akan kesulitan bila dimuat.

Tidak ada komentar: